fbpx
Jalur Penerbangan Pesawat di Seluruh Dunia dari FlightRadar24.com

Handphone Anda Menyala, Mesin Mobil Anda Mati - Handphone Anda Menyala, Pesawat Anda Jatuh

Jika kita melihat perkembangan jaman sekarang ini, dunia kita penuh dengan kecanggihan teknologi. Bahkan kita sebagai pengguna dan penikmatnya dibuat berdecak kagum. Yang dahulu televisi setebal lemari baju, sekarang bisa setipis buku index telepon. Yang dahulu jika ingin minum kopi harus menuang dan mengaduk, sekarang tinggal pencet tombol dan menunggu kurang dari semenit, maka kopi panas sudah siap dinikmati. Masih teringat juga handphone pertama saya yang tebalnya lebih dari 4 centimeter, plus tinggi 20 centimeter, dan lebar 5 centimeter dan antena yang seperti sedotan minum anak TK, eh ternyata dalam dasawarsa terakhir saja, sudah semakin tipis, tetapi semakin melebar tanpa tombol dengan sejuta kecanggihannya dan banyak yang menyebutnya smartphone. Mobil juga begitu, yang dulu masih mengandalkan mesin dan pengaturan secara mekanik, sekarang sudah beralih kepada pengaturan elektris.

Mungkin Anda akan bertanya-tanya,kenapa saya memilih judul ini dan menulis tentang ini ?

Sejujurnya saya tergelitik karena satu tulisan yang menurut saya tidak berdasar dan ditulis atas nama dengan inisial EK yang mengaku dari Direktorat Pesisir dan Lautan, Ditjen KP3K. Departemen Kelautan dan Perikanan. Tulisan yang sudah banyak tersebar dan disebar tersebut intinya membahas tentang "pengaruh handphone terhadap sebuah penerbangan" disertai cerita-cerita yang mengkisahkan bahwa intinya Turbin pesawat dapat terganggu jika handphone itu menyala. Bahkan dikatakan kemudi pesawat terganggu akibat sinyal handphone yang aktif.

Yang saya bingung saat membacanya...tulisan itu dasarnya apa ?

- Faktanya dapat dipertanggung jawabkan atau tidak ?
- Orang Jermannya namanya siapa ?
- Tinggal di Jerman mana ?
- Dia bekerja di company mana ?

Karena jika tidak dapat dipertanggung jawabkan, mungkin saja si penulis yang namanya tertera di tulisan tersebut, baik di blog miliknya, atau Facebook dan yang dengan sengaja menyebarkannya akan dapat tersangkut Undang-undang ITE No.11 tahun 2008, tentang pemberian informasi palsu serta menyebarkan kepada masyarakat.

Tulisan ini bertujuan meluruskan apa yang sudah ditulis EK tersebut dan disebar luaskan.

Kalau saya... dengan adanya notes saya ini, saya berani mempertanggungjawabkan kebenarannya dan kalau perlu kita adakan uji teknis menyangkut tulisan saya ini.

Okey then... let's begin...

Perlu digaris bawahi bahwa SAYA SANGAT SETUJU dengan kampanye anti sinyal handphone yang aktif di dalam sebuah penerbangan, tetapi di mata saya pribadi, caranya bukan seperti ini, yaitu dengan menakut-nakuti masyarakat dengan kisah-kisah yang ‘katanya’ benar-benar terjadi dan konyolnya, ternyata selain menyebar melalui blog, facebook, dan Broadcast Blackberry Messenger, Bahkan sempat ditulis, di Broadcast Message yang saya terima. Bahwa pesawat dari maskapai berinisial L yang ditching di Denpasar disebabkan karena handphone yang masih aktif. Waduh info dari mana? KNKT saja belum release Final Report.

Apakah hal seperti itu pantas untuk saya katakan sebuah "pembodohan publik" ? biar masing-masing kita saja yang menjawabnya

Daripada saya menulis dan Anda semakin bingung, mari kita bersama-sama menelaah sesuatu. Saya akan coba membuka paradigma Anda, kenapa kok saya katakan fakta di dalam tulisannya seperti "melenceng" dari kenyataan ?

Saya ingin mengambil contoh kendaraan yang mungkin sering kita gunakan sehari-hari, yaitu mobil. Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa perkembangannyapun semakin canggih. Bagi yang suka utak-atik mesin dan mengikuti kecanggihan kendaraan-kendaraan yang diluncurkan pasti akan semakin kagum dengan segala macam teknologi yang memudahkan kita.

Dahulu pembakaran mesin bensin, murni menggunakan karburator untuk melimpahkan sejumlah tertentu bensin untuk masuk di ruang bakar, dengan membuka skep secara mekanis melalui kabel baja yang terhubung ke pedal gas di kaki pengemudi.

Tetapi sekarang, sudah ada teknologi EFI (Electronic Fuel Injection), yang mana debit bensin yang dilimpahkan dihitung secara canggih di ECU (Engine Control Unit) baru dibuka sesuai kebutuhan, alhasil mobil semakin irit dan bertenaga.

Kemudian ada lagi teknologi TBW (Throttle By Wire), pedal gas yang ada di kaki pengemudi sudah tidak terdapat kabel baja lagi ke ruang mesin, tetapi hanya sensor dan kabel yang justru menuju ECU system, menjadikan pedal mobil lebih ringan dan responsif saat diinjak.

Belum lagi fitur DBW (Drive By Wire) atau ada juga yang menyebutnya ESA (Electronic Steering Assist), jika mobil dahulu murni menggunakan steering rack menuju ke sistem kemudi mobil dibantu power steering hidrolis. Sekarang jamannya sudah berbeda, ada perkembangan yang lebih lagi.

Ada beberapa produsen mobil yang canggih menerapkan kemudi mobil yang tanpa mekanis, tetapi murni dari pergerakan sensor-sensor yang diterima dikemudi mobil dan diubah ke tenaga mekanis di dinamo elektris penggerak kemudi. Semakin keren saja mobil-mobil saat ini... (yang saya kutip hanya sebagian kecil saja perkembangan teknologi dan inovasi dunia otomotif)

Kebetulan saya memiliki satu mobil, tidak perlu saya katakan mereknya secara detail, tetapi yang saya tekankan disini, mobil saya sudah dilengkapi sistem ECU dan EFI yang sangat mumpuni. Saya hobi dengan otomotif juga, jadi setidaknya saya sangat mengerti bagaimana cara kerjanya dan dimana letak sistem pengontrol ECU dan EFI mobil saya sendiri (jadi istilahnya "otak" dan jantung mobil saya).

Letaknya ECU mobil saya tersebar di beberapa titik di dashboard depan, hingga bagian kaki pengemudi dan penumpang depan (penuh kabel bersliweran dan penuh dengan sensor-sensor elektris yang tertata rapi tetapi cukup rumit).

Saya pribadi memiliki beberapa Handphone yang aktif dengan beberapa kartu dari operator GSM, yang selalu saya bawa kemana-mana saat berpergian termasuk saat saya mengemudi. Saat saya mengemudi, saya tidak pernah meletakkan handphone saya di kursi belakang, tetapi saya meletakkannya di kursi penumpang depan jika kursi tersebut kosong, atau diatas console box tengah, jadi jika saya ada telephone masuk saya dapat segera tahu siapa yang menghubungi dan menerima telephone melalui bluetooth handsfree, sehingga saya tetap dapat berbicara dengan leluasa, tanpa menggangu kemampuan pengendalian kemudi saya.

Mau tidak mau, sadar tidak sadar, handphone saya terletak dekat dengan pusat ECU (otak dan jantung kinerja mobil saya, dan berjarak sekitar 1 meter saja).

Nah kembali lagi saya pertanyakan kepada Anda.
1. Apakah saat saya menerima telepon, ada SMS masuk, atau BBM masuk tiba-tiba mesin saya mati? TIDAK.
2. Apakah saat saya menerima telepon, ada SMS masuk, atau BBM masuk tiba-tiba seluruh indikator yang ada di dashboard saya (baik digital dan analog) mendadak kacau? TIDAK
3. Apakah saat saya menerima telepon, ada SMS masuk, atau BBM masuk tiba-tiba kemudi/setir saya tidak dapat dikendalikan? TIDAK

Yang terganggu adalah jika saya masih memiliki sistem audio konvensional seperti mobil saya yang sebelumnya yang masih menggunakan kaset, biasanya saat musik masih berbunyi dan ada telp masuk, maka akan ada bunyi "Dreded... Dreded...Dreded..."

Dan memang hanya itu gangguannya. Frekuensi sinyal HP yang tertangkap oleh pickup coil (kumparan) magnet yang berada di head tape, untuk membaca pita kasetnya. mengalami DAC (Digital to Analog Conversion).

Bayangkan jika 3 poin pertanyaan saya tadi jawabannya adalah YA.
- Tidak akan ada orang yang dapat ber-BBM ria atau SMS sambil duduk manis dikursi penumpang mobil yang sedang berjalan.
- Tidak akan ada telepon masuk didalam mobil akibat semua Handphone akan dimatikan karena takut sinyalnya membuat 'liar' kemudi mobil kesana kemari tidak terkontrol dan mesin mobil tiba-tba mati sendiri.

Dan saya dapat membayangkan bahwa akan banyak kecelakaan di jalan raya akibat handphone yang masih menyala di dalam mobil, kemudian saat sedang menyalip kendaraan lain dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba handphone berdering dan mesin mobil tiba-tiba mati. #upssss....what a big disaster#

Apakah Anda mengerti maksud saya disini ? Sinyal Handphone tidak mengganggu sistem dan kinerja apapun di mobil. Saat mengemudi memang dilarang untuk menggunakan handphone. Tetapi menerima telepon dengan bluetooth masih diijinkan sesuai regulasi peraturan lalu lintas negara yang bersangkutan.

Yang saya tekankan adalah... sinyal frekuensi elektris tidak dapat mengganggu suatu sistem mekanis.

Sinyal frekuensi elektris masih dapat ditolerir gangguannya untuk suatu sistem elektrik lainnya. Sinyal frekuensi elektris akan dapat menggangu alat yang berbasis kinerja media pemancar dan penangkap Analog (contoh radio komunikasi, televisi analog, radio analog, tape, dan benda yang serupa).

Kembali lagi saya ingin mengutip bahwa di tulisan yang saya maksudkan dan ditulis oleh seseorang di awal tulisan ini mencantumkan bahwa ada pesawat yang jatuh karena sinyal handphone yang masih menyala dalam pesawat, tertulis pula terjadi gangguan indikator di cockpit, gangguan pada kemudi pesawat karena sinyal handphone yang masih menyala, serta mesin turbin yang dapat mati karena handphone yang menyala, plus sinyal pemancar BTS operator yang disebutkan dapat mencapai ketinggian 30.000 kaki.

Bagi saya adalah tidak berdasar.

Secara umum dan hukum yang ada, SINYAL HANDPHONE DI DALAM SEBUAH PENERBANGAN MEMANG DILARANG, KARENA MENGANGGU SISTEM KOMUNIKASI. *dan ini memang diatur dalam undang-undang, dan ada sanksi denda ratusan juta bagi yang melanggar*

Pesawat sekarang semakin canggih, disertai segala kemampuannya untuk terbang didalam kondisi yang super ekstrim dengan kekuatan mesin yang luar biasa.

Sistem FBW (Fly By Wire) yang pengendaliannya melalui sensor elektris, Kecanggihan sistem radar yang jarak jangkaunya semakin jauh, Teknologi GPS pesawat yang semakin akurat bahkan ada yang disertakan dengan LCD display yang tampilan terrainnya berupa 3 dimensi, dll.

Perkembangan teknologinya juga terus berkembang menuju era digital, bahkan sempat dipamerkan di salah satu airshow dunia, nantinya cockpit pesawat dapat berupa touch screen display yang informatif (Thalles).

Sampai saat ini, sistem komunikasi pesawat masih tergantung pada frekuensi radio satu arah yang bergantian, dan bukan sistem duplex (dua arah langsung). Jelas sekali bahwa sinyal handphone akan dapat menggangu komunikasi antara Pilot dan Air Traffic Control (ATC) yang masih berbasis frekuensi radio.

Supaya diketahui lebih dahulu saat-saat kritis di dalam sebuah penerbangan ada pada saat takeoff dan landing. Yang dimaksud kritis disini bukan hanya faktor kemampuan mesin atau teknis, tetapi patut diingat bahwa saat mendekati satu bandara, pilot harus lebih intens mengikuti dan memperhatikan arahan, larangan, instruksi dari ATC. Sehingga gangguan sekecil apapun dalam berkomunikasi dapat dianggap sebagai suatu sumber yang menyebabkan salah penafsiran dan dapat menyebabkansebuah musibah.

Terlebih lagi pesawat saat dalam saat terbang menjauh dari bandara dan mendekati bandara juga masih dalam kecepatan yang sangat tinggi plus... dibeberapa bandara juga tingkat kepadatan lalu lintas udaranya cukup tinggi untuk pesawat takeoff dan landing.

Nah... Ketinggian cakupan sinyal antena operator telepon (BTS) umumnya tidak dapat melebihi 2000ft dari permukaan tanah. Ruang lingkup cakupan sinyal BTS jika digambarkan akan seperti Bakpau.
Luas tetapi tidak tinggi (atau dalam artian melebar) handphone yang masih menyala di dalam pesawat dalam kasus tertentu akan tetap dapat menangkap sinyal BTS di ketinggian itu, selebihnya sudah tidak bisa menangkap sinyal apapun dari operator yang di darat, nah sinyal yang tertangkap (menerima dan mengirim data) inilah yang dapat menjadi potensi gangguan komunikasi antara Pilot dan ATC.

Maka dari itu, jika saya baca di tulisan yang saya maksudkan di awal tulisan ini dan telah tersebar kemana-mana tersebut, dikatakan bahwa sinyal BTS dapat mencapai ketinggian 35.000 feet. Antena BTS memang tinggi menjulang, tetapi arah sebarannya diarahkan horizontal dan bukan vertikal. Silahkan kroscek dengan teman installer BTS operator, posisi pemancar diarahkan sejajar horizontal, kalau berdasar tulisan yang saya maksudkan di awal itu, siapa yang mau online di atas awan ?

Oh... mungkin ada burung yang lewat yang punya smartphone, ingin telepon dan twitteran? New Tweet : "Sedang di atas awan, berangin sekali disini takut masuk angin deh, sampai rumah mau kerokan sama betinaku" Hahahahaha.. #hanya humor supaya tidak terlalu serius saja#

Jika ada yang bertanya bagaimana mungkin penumpang yang duduk di tengah ataupun belakang sinyal handphonenya yang sedang aktif dapat menggangu cockpit ?

Begini...
Pesawat adalah suatu benda yang rumit dan canggih, selain terdiri dari mekanis, tetapi juga masih terdapat bagian elektris dan analog di beberapa bagian badannya. Jika kita membelah badan pesawat di bagian kursi-kursi penumpang, disitu akan terdapat banyak kabel, pipa yang bersliweran dan alat-alat mekanis, elektris maupun analog pendukung kinerja sebuah pesawat. Letaknya pun bersliweran baik diatas kursi kepala penumpang, dinding samping kursi penumpang maupun dibawah kaki kursi penumpang. Sekecil apapun gangguannya di dalam penerbangan, dapat merupakan suatu ancaman bagi keselamatan.

Bagaimana bentuk gangguannya ?

Pilot dan ATC selalu berkomunikasi untuk arah, ketinggian, kecepatan maupun ijin melakukan manuver pesawat. ATC juga memberikan instruksi kepada Pilot melalui Radio, dan Pilot akan meresponinya dengan pengendalian gerakan dan kecepatan pesawat (entah itu harus naik, turun, berbelok karena menghindari pesawat di depannya, maupun mempertahankan kecepatan, mempercepat laju pesawat untuk menghindari bahaya tabrakan di udara antara satu pesawat dengan pesawat yang lainnya). Bahkan pesawat menyalakan mesin, parkir atau didorong mundur (pushback) pun harus mendapatkan ijin dari ATC bandara yang bersangkutan.

Hanya sekedar info, bandara sekelas Soekarno Hatta Jakarta, memiliki pergerakan pesawat yang cukup padat. Seperti dilansir oleh Presiden Federasi Pilot Indonesia melalui wawancara Tribun News (http://www.tribunnews.com/2013/04/09/terlalu-padat-bandara-soekarno-hatta-rawan-tabrakan), bahwa pergerakan pesawat perjam rata-rata mencapai 72 pesawat.

Jadi dalam melebihi kemampuan yang ada, atau dapat dikatakan over capacity, kalau di jalanan kita mengatakan bahwa padat merayap tetapi di udara juga ada seperti itu. Patut diingat bahwa pesawat tidak dapat berhenti di udara kan ? Jadi pilot harus mendapat informasi yang jelas, dan akurat untuk mengetahui kondisi di sekitar pesawat agar terhindar dari tabrakan.

Secara sederhana, contohnya dapat seperti ini :
Misalnya ATC memberi instruksi pilot Emprit Airlines untuk berbelok ke arah 330 dan turun ke 2000 feet untuk menghindarkan dari kecelakaan, karena ada pesawat yang didepannya didalam jarak tertentu.

ATC : "Emprit 210 turn right heading 330, descent 2000 and maintain own navigation"

Kemudian Pilot mendengarnya seperti ini karena gangguan sinyal handphone di headset komunikasi pilot yang mungkin saja dapat terjadi :

"Emprit 210 turn right heading 330, *dreded....dreded..dreded* and maintain own navigation"

Nah...apa yang terjadi, Pilot tidak mendengar secara sempurna instruksi dari ATC. Dan ini akan menjadikan potensi kecelakaan yang besar.

Pilot hanya berbelok, tetapi tidak menurunkan ketinggian karena instruksinya terganggu oleh sinyal handphone yang mungkin tedengar di headset Pilot, sebuah pesawat jika dalam jarak dekat, dengan kecepatan tinggi dan berada di ketinggian yang sama adalah sebuah momen yang dapat menjadi suatu musibah besar.

Patut diingat bahwa sesuatu Tidak terlihat bukan berarti tidak ada... Tidak ada bukan berarti tidak terlihat... Begitupun pergerakan pesawat di Angkasa yang luas.

Jalur Penerbangan Pesawat di Seluruh Dunia dari FlightRadar24.com
Gambar : Keadaan yang nyata pergerakan dan jumlah pesawat yang tertangkap oleh satelit. Yang terpampang inipun masih belum mewakili keseluruhan pesawat yang terbang, karena ada daerah yang berlum tercover terdeteksi satelit untuk sistem ADB pesawat. (source : Flight Radar24)

Jika Anda sedang terbang dan melihat keluar jendela pesawat Anda, mungkin anda berpikir seperti terbang sendirian di langit yang luas, tetapi padahal jika Anda tahu,itulah hasil kerja yang baik antara Pilot dan ATC untuk menjaga pesawat anda dan pesawat lainnya tetap dalam jarak dan ketinggian yang aman dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Ada juga yang berkata kepada saya seperti ini : "Pak... tetapi sekarang di beberapa pesawat kan sudah bisa internetan di udara. Itu kan pakai sinyal juga"

Iya memang benar, tetapi ini difasilitasi oleh WiFi (hotspot) di pesawat yang memancarkan langsung transmisi data internet ataupun telepon dari fasilitas satelit pesawat di ketinggian tertentu dan peralatannya pun sudah memiliki sertifikasi keamanan penerbangan dari pihak-pihak regulasi penerbangan yang berwenang.

Patut diketahui, tetap saja saat akan takeoff dan landing, seluruh transmisi dan sinyal pemancar di pesawat akan dinonaktifkan kembali sesuai peraturan penerbangan Internasional.

Mode Penerbangan (Airplane Mode/Flight Mode)
Kemudian banyak yang bertanya ke saya, apakah selama penerbangan penggunaan Mode Penerbangan (Airplane Mode/Flight Mode) di Smartphone penggunaannya diijinkan ?

PENGGUNAANNYA DIIJINKAN, BAHKAN DIWAJIBKAN jika penumpang tetap ingin menggunakan Smartphone selama penerbangan untuk menonton film, mendengar MP3, main game, atau membaca offline ebooks. Fitur semacam ini memang bertujuan agar smartphone yang digunakan dinonaktifkan sinyal bluetooth, wifi, dan juga sinyal GSM/CDMA tetapi sekali lagi, perhatikan instruksi awak kabin dan maskapai yang kita naiki, ada yang benar-benar melarang dinyalakan smartphonenya, dan ada pula yang masih mengijinkan tetapi dalam airplane mode. Patuhi saja instruksi yang diberikan.

Dengan adanya tulisan saya ini, saya berharap bahwa masyarakat Indonesia lebih teredukasi secara intelektual dan bukan oleh info yang bagi beberapa pihak tergolong tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Sekaligus tulisan yang bernada menakut-nakuti masyarakat karena sinyal handphone yang dapat membuat mesin turbin pesawat mati dan kemudi pesawat terpengaruh. Saya rasa masyarakat Indonesia cukup bijak, pandai dan logis untuk menilai sebuah informasi itu benar atau tidak, sebuah larangan penggunaan handphone itu adalah sebuah regulasi/peraturan dari pemerintah, dan bukan dengan cara menakut-nakuti masyarakat.

*Maaf jika mungkin ada pembaca yang tersinggung, tetapi hal ini tetap harus diketahui khalayak umum, agar semua menjadi preventif dan sadar mengetahui kebenaran yang sesungguhnya tentang pengaruh handphone di dalam suatu penerbangan.

Salam Aviasi Indonesia
Vincent Herdison, 20 April 2013 (Sumber Tulisan)